Menu Tutup

Dari Desa ke Kota: Bagaimana Relevansi Lokal Mendorong Aksi Lingkungan

Pergerakan untuk menjaga lingkungan seringkali terasa lebih personal dan mendesak ketika berakar pada relevansi lokal. Baik di pedesaan yang menghadapi deforestasi maupun di perkotaan dengan masalah polusi udara dan sampah, menghubungkan isu lingkungan dengan konteks spesifik wilayah mendorong masyarakat untuk bertindak. Ketika dampak masalah lingkungan terlihat dan dirasakan langsung, kesadaran berubah menjadi aksi nyata, membentuk pola pikir kolektif yang proaktif.

Pendekatan ini sangat efektif dalam mobilisasi masyarakat. Di sebuah desa di kaki pegunungan Jawa Barat, tepatnya di Desa Sukamaju, pada hari Minggu, 27 April 2025, pukul 07.00 WIB, para petani bersama pemuda desa bergotong royong membersihkan saluran irigasi yang tersumbat sampah. Inisiatif ini dipicu oleh kekhawatiran akan pasokan air ke sawah mereka yang terancam. Kepala Desa Sukamaju, Bapak H. Maman, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah hasil dari diskusi rutin warga yang menyadari langsung relevansi lokal dari masalah tersebut. Mereka bahkan mendapat dukungan berupa alat kebersihan dari Dinas Pertanian setempat.

Di sisi lain, di lingkungan perkotaan, relevansi lokal juga terbukti kuat dalam mendorong perubahan. Di Kota Medan, Sumatera Utara, tepatnya di lingkungan RW 08, Kelurahan Kedai Durian, pada hari Sabtu, 10 Mei 2025, pukul 09.00 WIB, ibu-ibu PKK bersama-sama menginisiasi program “Taman Kota Mini” di lahan kosong yang sebelumnya kumuh. Mereka menanam sayuran, tanaman obat, dan bunga, mengubah area tersebut menjadi ruang hijau yang bermanfaat. Inspirasi datang dari masalah keterbatasan ruang hijau dan polusi di kota. Program ini diawasi dan didukung oleh petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan, Bapak Joko Susilo, yang membantu dalam penyediaan kompos.

Bahkan pihak keamanan pun terlibat dalam mendukung aksi berdasarkan relevansi lokal. Di sebuah kota di Kalimantan Selatan, pada hari Kamis, 5 Juni 2025, pukul 13.00 WITA, anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa setempat mengadakan patroli sekaligus sosialisasi kepada pedagang pasar tradisional tentang bahaya penggunaan kantong plastik berlebihan dan pentingnya memilah sampah. Mereka menunjukkan tumpukan sampah yang mengganggu kebersihan dan kesehatan lingkungan pasar secara langsung. Tindakan persuasif ini menekankan bagaimana kebiasaan kecil sehari-hari memiliki relevansi lokal yang besar terhadap kualitas lingkungan komunitas.

Dengan demikian, relevansi lokal adalah motor penggerak utama dalam setiap aksi lingkungan yang berhasil. Memahami dan mengatasi masalah lingkungan yang ada di depan mata bukan hanya memperkuat komunitas, tetapi juga menciptakan perubahan berkelanjutan dari desa hingga ke kota.