Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki keunikan tersendiri dalam pola kehidupan komunalnya, di mana para santri menetap, belajar, dan beraktivitas di satu kawasan selama 24 jam penuh. Pola hidup yang padat ini sering kali menghadirkan tantangan tersendiri dalam aspek sanitasi dan higienitas jika tidak dikelola dengan baik. Menyadari hal tersebut, HAKLI Serang meluncurkan program “Sanitarian Masuk Pesantren” yang bertujuan untuk menanamkan budaya hidup bersih secara mendalam di kalangan santri. Program ini dirancang untuk mengubah paradigma bahwa hidup di pesantren tidak harus identik dengan keterbatasan fasilitas sanitasi, melainkan bisa menjadi model lingkungan yang sehat dan Islami.
Fokus utama HAKLI Serang dalam membangun budaya hidup bersih dimulai dari manajemen sanitasi dasar di area asrama dan kamar mandi pesantren. Para sanitarian memberikan pendampingan teknis mengenai pengelolaan limbah cair domestik agar tidak mencemari lingkungan sekitar pesantren. Mereka juga mengajarkan cara menjaga kebersihan sumber air bersih dan bak penampungan air agar terbebas dari jentik nyamuk dan bakteri patogen. Dengan lingkungan yang bersih, risiko penyakit menular yang sering dialami santri, seperti penyakit kulit (scabies) atau gangguan pencernaan, dapat dikurangi secara signifikan, sehingga proses menuntut ilmu dapat berjalan dengan lebih optimal dan nyaman.
Selain aspek infrastruktur, perubahan perilaku individu merupakan pilar terpenting dalam menciptakan budaya hidup bersih. HAKLI Serang menggunakan pendekatan edukasi yang persuasif dengan mengaitkan prinsip-prinsip kesehatan lingkungan dengan nilai-nilai agama, seperti konsep “kebersihan adalah sebagian dari iman”. Siswa diajarkan tentang pentingnya mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan pakaian, serta mengelola sampah pribadi secara bertanggung jawab. Ketika perilaku bersih ini dilakukan atas dasar kesadaran dan keyakinan agama, maka kebiasaan tersebut akan lebih menetap dan dipraktikkan secara konsisten oleh para santri, baik saat masih berada di pesantren maupun saat nanti kembali ke masyarakat.
Program ini juga melibatkan pelatihan khusus bagi kader santri sebagai “Duta Kesehatan Lingkungan”. Para duta ini dilatih oleh HAKLI Serang untuk melakukan inspeksi rutin di lingkungan pesantren mereka masing-masing. Mereka belajar cara mengidentifikasi risiko kesehatan lingkungan, seperti tumpukan sampah yang tidak terkelola atau saluran air yang tersumbat, dan melaporkannya kepada pengurus pesantren. Keterlibatan aktif para santri dalam menjaga lingkungannya sendiri merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan budaya hidup bersih. Melalui peran teman sebaya (peer group), pesan-pesan kesehatan lebih mudah diterima dan dipraktikkan tanpa merasa tertekan oleh aturan yang kaku.