Kota Serang, sebagai ibu kota Provinsi Banten, terus mengalami perkembangan urbanisasi yang sangat pesat. Seiring dengan pertambahan penduduk dan pemukiman, tantangan dalam mengelola kesehatan lingkungan Serang menjadi semakin mendesak. Masalah klasik perkotaan seperti tumpukan sampah domestik dan sistem pembuangan air limbah yang kurang tertata menjadi fokus utama yang harus segera diselesaikan. Kualitas hidup warga sangat bergantung pada seberapa efektif pemerintah daerah dan masyarakat bekerja sama dalam menciptakan ekosistem perkotaan yang higienis. Lingkungan yang kumuh dan tidak terawat adalah cikal bakal munculnya berbagai wabah penyakit yang dapat menghambat produktivitas ekonomi kota.
Prioritas utama dalam agenda pembangunan kota saat ini adalah fokus perbaikan sanitasi di wilayah-wilayah padat penduduk dan pinggiran sungai. Masih adanya praktik pembuangan tinja yang tidak memenuhi standar kesehatan menjadi ancaman serius bagi kualitas air tanah di Serang. Rembesan dari septic tank yang tidak kedap air atau pembuangan langsung ke saluran drainase dapat menyebabkan kontaminasi bakteri E. coli pada sumur warga. Oleh karena itu, pembangunan tangki septik komunal dan edukasi mengenai jamban sehat terus digalakkan. Sanitasi yang buruk adalah penyebab utama kasus diare kronis dan stunting pada anak-anak, sehingga perbaikan di sektor ini merupakan langkah preventif medis yang sangat fundamental.
Selain masalah sanitasi, pengelolaan limbah rumah tangga di Serang juga menuntut perhatian serius. Volume sampah domestik yang terus meningkat seringkali melampaui kapasitas pengangkutan armada kebersihan kota. Akibatnya, banyak warga yang masih terbiasa membuang sampah ke sungai atau membakarnya di lahan kosong. Kebiasaan ini tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga menyumbat saluran air yang memicu genangan saat musim hujan tiba. Transformasi manajemen sampah di Serang diarahkan pada penguatan bank sampah di tingkat RT/RW, di mana warga diajak untuk memilah sampah organik dan anorganik secara mandiri agar beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cilowong dapat berkurang.
Kaitan antara kesehatan lingkungan dan manajemen limbah cair domestik juga terlihat pada kondisi drainase perkotaan. Air limbah sisa kegiatan mencuci dan memasak (grey water) yang langsung dibuang ke selokan tanpa pengolahan seringkali menimbulkan bau tidak sedap dan menjadi sarang serangga pembawa penyakit.