Masalah gagal tumbuh pada anak atau yang lebih dikenal sebagai stunting telah menjadi perhatian nasional karena dampaknya yang permanen terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Selama ini, banyak orang berasumsi bahwa penyebab utama stunting hanyalah kurangnya asupan gizi atau nutrisi. Namun, sebuah perspektif yang lebih mendalam muncul dari para praktisi kesehatan lingkungan di Provinsi Banten. Melalui analisis lapangan yang komprehensif, topik mengenai Stunting dan Sanitasi menjadi isu utama yang dibahas. Para tenaga ahli dari HAKLI Serang mencoba melakukan pendekatan yang berbeda dengan melakukan observasi langsung ke wilayah Pedesaan untuk membuktikan bahwa kebersihan lingkungan memegang peranan yang sama pentingnya dengan isi piring makan anak.
Dalam banyak kasus yang ditemukan di wilayah Serang, anak-anak yang mendapatkan asupan makanan cukup tetap mengalami keterlambatan pertumbuhan. Setelah dilakukan pemeriksaan lingkungan, ditemukan bahwa kondisi sanitasi di rumah tangga mereka sangat memprihatinkan. Hubungan antara Stunting dan Sanitasi ini terjadi melalui mekanisme infeksi berulang. Ketika seorang balita tinggal di lingkungan dengan akses air bersih yang buruk dan sistem pembuangan limbah yang terbuka, mereka sangat rentan terkena diare dan infeksi cacing. Infeksi yang terus-menerus ini menyebabkan nutrisi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan tubuh justru habis terkuras untuk melawan penyakit. Inilah realitas yang sering kali terabaikan di kawasan Pedesaan yang jauh dari jangkauan fasilitas kesehatan modern.
Ahli kesehatan lingkungan dari HAKLI Serang menjelaskan bahwa air yang tercemar bakteri koli dari tinja manusia yang tidak dikelola dengan benar adalah musuh tersembunyi bagi pertumbuhan anak. Di pedesaan, masih banyak ditemukan jamban yang langsung menyalurkan limbah ke sungai atau kolam yang juga digunakan untuk mencuci dan mandi. Hal ini menciptakan siklus penyakit yang mematikan. Dengan membedah kaitan antara Stunting dan Sanitasi, HAKLI berupaya meyakinkan pemerintah daerah bahwa intervensi gizi tidak akan pernah maksimal jika tidak dibarengi dengan pembangunan infrastruktur air bersih dan jamban sehat yang memenuhi standar kesehatan lingkungan.